Life’s Gone (Cimahi’s Part) III

Juni 9, 2009 at 9:20 am (Outlookers)

Previously On Cimahi’s Part

Satu jam berlalu semenjak persinggahan di rest area, rumah-rumah penduduk mulai terlihat padat berdesak-desakan satu dan lainnya, tidak terasa ternyata mobil mereka telah memasuki kota dan mulai menurunkan penumpangnya.Ibu Tate yang memegang secarik kertas memberitahu alamat yang mereka tuju kepada sang sopir. Beberapa lama berputar-putar akhirnya tiba juga giliran Tate dan ibunya untuk diantar. Mereka diturunkan tepat di depan rumah dengan warna krem yang disekeliling masih banyak terdapat sisa-sisa bahan bangunan di depannya telah menunggu seorang pria dengan umur dibawah 30 tahun yang ternyata penjaga rumah itu. Menurut Ibu Tate rumah itu adalh rumah dari atasan sang ibu di kantor yang baru saja selesai dibangun tapi belum dihuni.

Pemuda penjaga rumah tersebut ternyata sekampung dengan Tate, dia telah berada di rumah itu selama satu tahun lebih awalnya hanya untuk membantu sang pemilik rumah namun menjadi keterusan dengan alasan kota B ini membuatnya nyaman. Tate dan ibunya memutuskan untuk ke Kota C pada sore hari karena siang ini mereka butuh istirahat sekedar untuk merentangkan badan. Rumah itu tidak terlalu besar namun terasa lega mungkin karena tidak ada perabotan yang biasa mengisi sebuah rumah hanya terdapat sebuah TV ukuran 21 inch diatas sebuah meja kayu, kamarnya pun hanya berisi kasur spring bed yang masih tertutup plastik, hanya dapurlah bagian dari rumah itu yang cukup banyak menampung peralatan-peralatan masak khas dapur. Setelah merasa beristirahat cukup Tate dan ibunya berangkat ke kota C berbekal petunjuk dari pemuda penjaga rumah dan tetangga yang baik hati.

Seperti layaknya perantau di daerah baru yang didatanginya, mereka berdua mencoba merekam segala hal yang dilalui oleh angkot yang mereka tumpangi agar ketika kembali mereka dapat merasa tidak seperti orang yang tersesat. Jarak antara Kota B ke Kota C tidak bisa dikatakan jauh namun jika menggunakan angkutan kota dan anda adalah seorang perantau jarak yang dekat bisa terasa jauh, untuk bisa sampai ke Kota C Tate dan ibunya harus menyambung angkutan sampai tiga kali yang seharusnya cuman dua kali. Berdasarkan petunjuk Tate dan ibunya harus turun di sebuah terminal yang bernama Terminal LP untuk mengambil angkutan yang bisa langsung ke Kota C, angkutan yang dimaksud adalah angkutan dengan warna hijau tua dengan garis strip berwarna merah hijau di tengah badannya dengan rute Terminal LP – Kota C.

Ibu Tate mungkin satu dari sekian ibu yang sangat waspada, bayangkan saja beliau sampai bertanya ke banyak orang untuk tahu arah dan angkutan apa yang paling tepat untuk sampai ke satu tujuan saja dan itulah yang beliau lakukan ketika hendak mencari angkutan ke Kota C dari tukang jual gorengan, tukang becak, penumpang angkot hingga penjaga terminal tidak luput dari pertanyaan beliau.

Angkutan-angkutan di Kota B tidak jauh berbeda dengan angkutan di kota asal Tate, semuanya sama misalnya jenis mobil yang digunakan untuk dijadikan angkutan, model posisi kursi yang saling berhadapan, kursi televisi yang berada di depan pintu dan umur mobil yang kebanyakan telah uzur, namun ada dua hal yang menarik perhatian Tatedan itu menjadi pembeda yang cukup tegas karena di kota asal Tate itu sangat jarang ditemukan. Pertama adalah kursi penumpang di dekat sopir ternyata hal yang ‘legal’ jika diduduki oleh dua orang dan kedua adalah memutar radio ataupun tape di dalam angkutan bukan hal yang lazim dilakukan oleh sopir-sopir angkutan di Kota B.

Pasar A itulah nama daerah tempat Tate dan Ibunya diturunkan, merasa ganjal nama tempat yang mereka tuju berbeda dengan nama daerah dimana mereka sedang berdiri membuat keduanya ‘ngamuk’ hingga mengagetkan penumpang dan sopir angkutan tadi, merasa bersalah sang sopir menjelaskan keadaan yang sedang terjadi walaupun menurut Tate itu tidak membuat yang terjadi lebih baik karena setelahnya sang sopir meminta biaya angkot. Dengan perasaan jengkel Tate dan ibunya mencari angkutan yang ditunjuk oleh sopir tadi yang katanya dapat mengantar mereka ke alamat yang dituju yang ternyata salah ditulis dan diucapkan oleh Tate dan ibunya.

Gedung itu terlihat masih baru dengan halaman yang cukup luas di depannya terdapat papan nama yang terbuat dari lempengan besi bertuliskan nama gedung itu, sebuah pos satpam di depan jalan masuk, pagar besi yang terkunci oleh rantai yang sudah mulai berkarat dan sebuah tiang bendera setinggi lima meter berdiri tegak di tengah halaman yang rapi dan terawat. Seorang bapak terlihat mendatangi mereka, bapak tersebut memiliki wajah yang jauh lebih tua dari umurnya pikir Tate. Bapak itu adalah pemilik salah satu rumah kost di sekitar gedung, mereka berdua kemudian di ajak oleh si bapak melihat rumah kost yang berada di sebuah gang, gangnya hanya selebar satu meter dengan deretan rumah yang ukurannya SS di sisi satu dan jurang pendek di sisi lainnya dimana terdapat jalur rel kereta api di bawahnya. Rumah itu mungkin bertipe 36 dengan pagar berwarna biru setinggi perut orang dewasa dan ada teras kecil dengan satu buah pohon delima di depan. Terdapat satu set kursi tamu yang sudah cukup tua ketika mereka masuk ke dalam rumah dan ada lemari pajang juga. Dua buah kamar tidur ukuran 3 x 3 meter di dalamnya terdapat ranjang ukuran double bed masing-masing, salah satu kamar memiliki lemari baju dua pintu sedang yang lain cuma lemari kecil plastik ada juga kamar mandi berukuran 1 X 4 meter di bagian belakang rumah di dalamnya terdapat peralatan masak yang digantung serampangan.

Sworders

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.